[Khotbah] Kasih, Minggu 13 Mei 2018
K A S I H
II Petrus 1:1-10
“Kasih karunia dan damai sejahtera melimpahi kamu oleh pengenalan akan Allah dan akan Yesus, Tuhan kita”
Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapakan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat. Iman itu mengakibatkan kita menerima janji-janji Allah yang berharga dan yang sangat besar, dan boleh mengambil bagian dalam kodrat ilahi, dan luput dari hawa nafsu duniawi yang membinasakan dunia.
Namun Tuhan mau agar iman kita tidak hanya cukup berhenti disitu saja, tapi harus disertai dengan perbuatan, sebab iman tanpa perbuatan adalah mati (Yak 2:26). Perbuatan apakah yang harus ditambahkan kepada iman kita?
yaitu kebajikan, dan kepada kebajikan pengetahuan, dan kepada pengetahuan penguasaan diri, dan kepada penguasaan diri ketekunan, dan kepada ketekunan kesalehan, dan kepada kesalehan kasih akan saudara-saudara, dan kepada kasih akan saudara-saudara kasih akan semua orang.
Iman itu harus dibangun untuk mencapai satu tujuan, yaitu mengasihi Tuhan dan sesama kita.
Jadi sebenarnya Tuhan ingin kita memiliki kasih dalam hidup ini. Defenisi kasih dalam I Kor 13:4-7 “Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong, Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain, Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran, Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu”
Diantara ketiga hal ini yaitu iman, pengharapan dan kasih, kasih adalah yang terbesar. Karena sekalipun kita dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, mempunyai karunia untuk bernubuat, mengetahui segala rahasia, memiliki seluruh pengetahuan, memiliki iman yang sempurna untuk memindahkan gunung, membagi-bagikan segala sesuatu, bahkan menyerahkan tubuh untuk dibakar, tetapi jika kita tidak mempunyai kasih, itu sama sekali tidak berguna dan tidak ada faedahnya.
Banyak hamba-hamba Tuhan yang mengajarkan bahkan memberikan seminar tentang topik-topik seperti akhir zaman, hidup yang berkelimpahan, hidup yang berkemenangan, pertumbuhan gereja dsb. Namun jarang sekali hamba Tuhan memberikan seminar tentang kasih dan hidup mengasihi.
Kasih itu mengajarkan kepada kita, bagaimana kita bersikap dan menempatkan diri diantara orang lain, dan ini memerlukan latihan yang terus menerus. Kita semua menyadari bahwa harus hidup dalam kasih, tapi seringkali kita tidak melakukannya sehingga terjadi pertengkaran, perselisihan dan keributan.
Kasih itu harus ditunjukkan kepada semua orang karena Tuhan Yesus mengajarkan bahwa kita harus saling mengasihi sebab Yesus telah terlebih dahulu mengasihi kita.
Kita dapat dikenal oleh orang lain sebagai murid Kristus yaitu jika kita saling mengasihi. Ini adalah perintah Tuhan Yesus yaitu supaya kita saling mengasihi; sama seperti Yesus telah mengasihi kita. (Yoh 13:34-35)
Orang tidak bisa memperlihatkan kasih, jika dia tidak menerima kasih Allah dan hidup dalam kasih Allah.
Walaupun saat ini kita menyaksikan sebuah tragedi yang mengintimidasi orang percaya di bangsa Indonesia, tapi satu hal yang Tuhan Yesus mau agar kita lakukan yaitu “Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu” (Matius 5:44).
Tuhan Yesus mau agar kita melepaskan pengampunan bagi mereka yang menganiaya kita, dan berdoa bagi mereka supaya suatu saat mata mereka terbuka terhadap kebenaran dan menjadi percaya kepada Tuhan Yesus. Sama seperti Saulus yang dulu adalah penganiaya jemaat Tuhan, namun suatu saat dia dijamah oleh Tuhan dan akhirnya hidupnya berubah dan Saulus akhirnya berubah menjadi Paulus seorang rasul yang luar biasa yang menjadi pemberita Injil.
Kita harus berusaha sungguh-sungguh dalam panggilan dan pilihan kita dan semakin teguh melakukannya, maka kita tidak akan pernah tersandung. Dan jika kita hidup dalam kasih, maka akhirnya Allah akan mengaruniakan hak penuh untuk memasuki Kerajaan kekal, yaitu Kerajaan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus….amin.
Oleh Pdt Lui Sirapanji M.Th









