KasihYesus

[Khotbah] Kasih, Minggu 13 Mei 2018

K A S I H

II Petrus 1:1-10

  “Kasih karunia dan damai sejahtera melimpahi kamu oleh pengenalan akan Allah dan akan Yesus, Tuhan kita”

 

Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapakan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat. Iman itu mengakibatkan kita menerima janji-janji Allah yang berharga dan yang sangat besar, dan boleh mengambil bagian dalam kodrat ilahi, dan luput dari hawa nafsu duniawi yang membinasakan dunia.

Namun Tuhan mau agar iman kita tidak hanya cukup berhenti disitu saja, tapi harus disertai dengan perbuatan, sebab iman tanpa perbuatan adalah mati (Yak 2:26). Perbuatan apakah yang harus ditambahkan kepada iman kita?

yaitu kebajikan, dan kepada kebajikan pengetahuan, dan kepada pengetahuan penguasaan diri, dan kepada penguasaan diri ketekunan, dan kepada ketekunan kesalehan, dan kepada kesalehan kasih akan saudara-saudara, dan kepada kasih akan saudara-saudara kasih akan semua orang.

Iman itu harus dibangun untuk mencapai satu tujuan, yaitu mengasihi Tuhan dan sesama kita.

Jadi sebenarnya Tuhan ingin kita memiliki kasih dalam hidup ini. Defenisi kasih dalam I Kor 13:4-7 “Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong, Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain, Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran, Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu”

Diantara ketiga hal ini yaitu iman, pengharapan dan kasih, kasih adalah yang terbesar. Karena sekalipun kita dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, mempunyai karunia untuk bernubuat, mengetahui segala rahasia, memiliki seluruh pengetahuan, memiliki iman yang sempurna untuk memindahkan gunung, membagi-bagikan segala sesuatu, bahkan menyerahkan tubuh untuk dibakar, tetapi jika kita tidak mempunyai kasih, itu sama sekali tidak berguna dan tidak ada faedahnya.

Banyak hamba-hamba Tuhan yang mengajarkan bahkan memberikan seminar tentang topik-topik seperti akhir zaman, hidup yang berkelimpahan, hidup yang berkemenangan, pertumbuhan gereja dsb. Namun jarang sekali hamba Tuhan memberikan seminar tentang kasih dan hidup mengasihi.

Kasih itu mengajarkan kepada kita, bagaimana kita bersikap dan menempatkan diri diantara orang lain, dan ini memerlukan latihan yang terus menerus. Kita semua menyadari bahwa harus hidup dalam kasih, tapi seringkali kita tidak melakukannya sehingga terjadi pertengkaran, perselisihan dan keributan.

Kasih itu harus ditunjukkan kepada semua orang karena Tuhan Yesus mengajarkan bahwa kita harus saling mengasihi sebab Yesus telah terlebih dahulu mengasihi kita.

Kita dapat dikenal oleh orang lain sebagai murid Kristus yaitu jika kita saling mengasihi. Ini adalah perintah Tuhan Yesus yaitu supaya kita saling mengasihi; sama seperti Yesus telah mengasihi kita. (Yoh 13:34-35)

Orang tidak bisa memperlihatkan kasih, jika dia tidak menerima kasih Allah dan hidup dalam kasih Allah.

Walaupun saat ini kita menyaksikan sebuah tragedi yang mengintimidasi orang percaya di bangsa Indonesia, tapi satu hal yang Tuhan Yesus mau agar kita lakukan yaitu “Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu” (Matius 5:44).

Tuhan Yesus mau agar kita melepaskan pengampunan bagi mereka yang menganiaya kita, dan berdoa bagi mereka supaya suatu saat mata mereka terbuka terhadap kebenaran dan menjadi percaya kepada Tuhan Yesus. Sama seperti Saulus yang dulu adalah penganiaya jemaat Tuhan, namun suatu saat dia dijamah oleh Tuhan dan akhirnya hidupnya berubah dan Saulus akhirnya berubah menjadi Paulus seorang rasul yang luar biasa yang menjadi pemberita Injil.

Kita harus berusaha sungguh-sungguh dalam panggilan dan pilihan kita dan semakin teguh melakukannya, maka kita tidak akan pernah tersandung. Dan jika kita hidup dalam kasih, maka akhirnya Allah akan mengaruniakan hak penuh untuk memasuki Kerajaan kekal, yaitu Kerajaan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus….amin.

Oleh Pdt Lui Sirapanji M.Th

Yokhebed

[Khotbah] Yokhebed (1), Minggu 06 Mei 2018

Y O K H E B E D

(Perempuan hebat ditanah budak)

 

Keluaran 2:1 “Seorang laki-laki dari keluarga Lewi kawin dengan seorang perempuan Lewi; (6-19) Dan Amram mengambil Yokhebed, saudara ayahnya, menjadi isterinya, dan perempuan ini melahirkan Harun dan Musa baginya”

 

Pelajaran dari kehidupan Yokhebed

  1.         Beriman

Yokehebed adalah orang Lewi, yang lahir di Mesir, tetapi Mesir tidak lahir dalam dirinya. Demikian juga dengan kita, yang walaupun kita hidup didunia, tapi kita tidak boleh hidup secara duniawi.

(Bil26:59) “Dan nama isteri Amram ialah Yokhebed, anak perempuan Lewi, yang dilahirkan bagi Lewi di Mesir”

Hal inilah yang memperlihatkan bahwa Yokhebed adalah seorang wanita yang rohani. Beberapa bukti tentang kerohanian Yokhebed adalah:

– Arti namanya

Yokhebed adalah The Lord is Glory (Tuhan adalah mulia)

(Yes 43:7) “semua orang yang disebutkan dengan nama-Ku yang Kuciptakan untuk kemuliaan-Ku, yang Kubentuk dan yang juga Kujadikan!”

Tuhan mau agar citraNya ada dalam hidup kita agar dapat menyatakan kemuliaan Tuhan, bagaimana caranya? yaitu jika kita berbuah banyak (Yoh 15:8) “Dalam hal inilah Bapa-Ku dipermuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak dan dengan demikian kamu adalah murid-murid-Ku.”

Yokhebed mempermuliakan nama Tuhan, dan kita juga harus memper

muliakan nama Tuhan dan berbuah untuk kemuliaan nama Tuhan. Salah satu buah yang harus dihasilkan dari hidup kita adalah buah Roh Kudus.

– Tindakannya

Yokhebed berani bertindak dengan menyembunyikan Musa selama 3 bulan, walaupun Firaun sudah mengeluarkan perintah agar semua anak laki-laki Ibrani yang lahir, harus dibunuh dan dilemparkan ke dalam sungai Nil; tetapi segala anak perempuan dibiarkan hidup (Ibr 11:3)

Akibat tindakan Yokhebed yang membela kebenaran, maka Musa tetap hidup dan akhirnya Musa dipakai oleh Tuhan untuk menjadi pemimpin yang membebaskan bangsa Israel dari perbudakan.

– Sikapnya

Sikapnya yang baik sebagai seorang ibu dapat dilihat saat dia  memberikan pendidikan dan menanamkan nilai-nilai kebenaran Allah kepada Musa sehingga setelah dewasa Musa menolak disebut anak oleh puteri Firaun. (Ibrani 11:24) “Karena iman maka Musa, setelah dewasa, menolak disebut anak puteri Firaun”

  1.         Melihat

Kel 2:1-2 “lalu mengandunglah ia dan melahirkan seorang anak laki-laki. Ketika dilihatnya, bahwa anak itu cantik, disembunyikannya tiga bulan lamanya”

Yokhebed memiliki pandangan yang jauh kedepan atas diri Musa. Kita harus memiliki cara pandang rohani bukan hanya untuk masa sekarang ini, tetapi juga untuk masa yang akan datang, hal ini berarti bahwa kita menjadi orang yang Visioner.

Apa yang seharusnya kita lihat dalam hidup ini?

– Lihatlah akan pemeliharaan Tuhan, saat kita ragu akan hari esok, lihatlah kepada Tuhan sebagai pemelihara hidup kita. Tuhan sanggup untuk memelihara hidup kita (Kej 1:29)

– Lihatlah akan janji Tuhan, jika kita merindukan sesuatu, percayalah pada janji Tuhan.

Seperti Abraham yang memandang dan melihat negeri Kanaan yang dijanjikan oleh Tuhan untuk diberikan kepada Abraham dan keturunannya (Kej 13:14)

– Lihatlah akan pertolongan Tuhan (Kel 14:13)

Tetapi berkatalah Musa kepada bangsa itu: “Janganlah takut, berdirilah tetap dan lihatlah keselamatan dari TUHAN, yang akan diberikan-Nya hari ini kepadamu; sebab orang Mesir yang kamu lihat hari ini, tidak akan kamu lihat lagi untuk selama-lamanya.

– Lihatlah ladang yang sudah menguning

(Yoh 4:35) “Lihatlah sekelilingmu dan pandanglah ladang-ladang yang sudah menguning dan matang untuk dituai”

– Jangan tertipu dengan apa yang dilihat mata jasmani

(Kej 12:10) Lot memandang lembah Yordan seperti taman Tuhan, padahal disitulah Sodom dan Gomora berada.

– Mata yang terbuka tapi tidak melihat (Mat 13:13)

Jadilah orang yang rohani dan melakukan hal-hal besar bersama dengan Tuhan Yesus….amin.

 

Oleh Pdt Honny Supit Sirapanji M.Th

HANA'S BLESSING (2)

[Khotbah] Hana’s Blessing(2), Minggu 29 April 2018

HANA’S BLESSING (2)

I Samuel 1:1-4

“Ada seorang laki-laki dari Ramataim-Zofim, dari pegunungan Efraim, namanya Elkana bin Yeroham bin Elihu bin Tohu bin Zuf, seorang Efraim Orang ini mempunyai dua isteri: yang seorang bernama Hana dan yang lain bernama Penina; Penina mempunyai anak, tetapi Hana tidak”

 

Hana adalah isteri Elkana, seorang perempuan mandul yang tidak memiliki anak. Namun pada suatu saat, Hana mengalami “New Season / New Beginning” atau suatu musim yang baru, permulaan baru.

Apa yang dialami oleh Hana?

  1.         Penderitaan (Suffering)

(I Sam 1:6) Hana mengalami penderitaan dan tekanan yang luarbiasa dari madunya yaitu Penina, yang sering menyakitkan hatinya dan membuatnya gusar.

  1.         Berserah (Surrender)

(I Sam 1:7) Hana menyerahkan seluruh pergumulannya kepada Tuhan, hal ini dapat kita lihat lewat apa yang dilakukan oleh Hana

  1.         Berdoa (Prayer)

(I Sam 1:10) “dan dengan hati pedih ia berdoa kepada TUHAN sambil menangis tersedu-sedu”

Hana datang kepada Tuhan dengan menangis tersedu-sedu, hal ini membuat hati Tuhan tersentuh dan memberikan belas kasihanNya kepada Hana. Saat mengalami pergumulan, kita juga harus datang kepada Tuhan dengan kesungguhan hati dan dapat menyentuh hati Tuhan.

Hana terus menerus berdoa kepada Tuhan (ayat 12). Seringkali Tuhan ingin menguji hati kita, apakah kita terus menerus berdoa dan memohon kepada Tuhan, ataukah kita cepat menyerah.

(Yes 62:6) “Di atas tembok-tembokmu, hai Yerusalem, telah Kutempatkan pengintai-pengintai. Sepanjang hari dan sepanjang malam, mereka tidak akan pernah berdiam diri. Hai kamu yang harus mengingatkan TUHAN kepada Sion, janganlah kamu tinggal tenang”

Jangan biarkan  diri kita tinggal tenang dan jangan sampai Tuhan tinggal tenang sampai Dia menjawab doa kita.

Hana mencurahkan isi hatinya kepada Tuhan (1 Sam 1:15)

“Aku mencurahkan keluhanku ke hadapan-Nya, kesesakanku kuberitahukan ke hadapan-Nya” (Maz 142:2)

Curhatlah kepada Tuhan, jangan kepada orang lain. Seperti Maria saat dia berdukacita, dia mampu menyentuh hati Tuhan, sehingga Yesus menangis melihat dukacita yang dialami oleh Maria (Yoh 11:33-35)

Apa akibatnya bagi Hana? Muncul iman dan dia mengalami kelegaan (I Sam 1:18) “Sesudah itu berkatalah perempuan itu: “Biarlah hambamu ini mendapat belas kasihan dari padamu.” Lalu keluarlah perempuan itu, ia mau makan dan mukanya tidak muram lagi”

Apa halangan doa?

– Terlalu cepat berhenti berdoa

– Bukan seperti membuat proposal, tapi memohonlah kepadaNya.

– Tidak yakin

– Adanya cadangan

  1.         Bernazar (Vowed)

(I Sam 1:11) “Kemudian bernazarlah ia, katanya: “TUHAN semesta alam, jika sungguh-sungguh Engkau memperhatikan sengsara hamba-Mu ini dan mengingat kepadaku dan tidak melupakan hamba-Mu ini, tetapi memberikan kepada hamba-Mu ini seorang anak laki-laki, maka aku akan memberikan dia kepada TUHAN untuk seumur hidupnya dan pisau cukur tidak akan menyentuh kepalanya.”

Hana bernazar, nazar adalah berjanji dihadapan Tuhan/hamba Tuhan untuk melakukan sesuatu atau memberikan sesuatu pada waktu yang akan datang.  Saat kita mengalami pergumulan, bernazarlah dihadapan Tuhan.

Seperti juga yang dilakukan oleh Yakub yang bernazar dihadapan Tuhan (Kej 28:20-21)

Pelajaran tentang nazar:

– Jika kita bernazar maka Tuhan akan mengingat kita (Kej 31:13)

– Jika kita bernazar, harus segera dibayar (Pengkotbah 5:3), Nazar harus segera dilakukan, karena jika tidak maka Tuhan akan merusakkan pekerjaan tangan kita.

  1.         Menyembah (Worship)

(1 Sam 1:19) “Keesokan harinya bangunlah mereka itu pagi-pagi, lalu sujud menyembah di hadapan TUHAN”

Hana dan Elkana saat pagi hari sujud menyembah Tuhan, dan Tuhan mengingat kepada Hana

Alasan kita memuji dan menyembah Tuhan

– Karena anugerah keselamatan  (Luk 2:30)

– Karena mujisatNya (Mat 14:32)

– Karena percaya Yesus (Yoh 9:38)

– Karena ada kuasa dalam pujian (1 Sam 16:14;23)

– Karena penghormatan dan kekaguman kepada Tuhan (Neh 9:5)

Akibatnya bagi Hana

– Hatinya bersukaria (I Sam 2:1)

– Mendapatkan kekuatan dari Tuhan (1 Sam 2:4)

Hal ini seperti yang tejadi pada rasul Paulus “Tetapi jawab Tuhan kepadaku: “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku.

(II Kor 12:9)

– Mendapatkan kehormatan (1 Sam 2:8)

Jika saat ini kita mengalami pergumulan yang berat, maka marilah kita berserah pada Tuhan, berdoa merendahkan diri dihadapan Tuhan, bernazar dan memuji menyembah Tuhan, maka kita akan mengalami “New Beginning” dan mujisat yang tidak lazim…..amin

 

Oleh Pdt Honny Supit Sirapanji M.Th

Bangkit dan terang

[Khotbah] Bangkit dan Menjadi Terang, Minggu 22 April 2018

BANGKIT DAN MENJADI TERANG
Yesaya 60:1
“Bangkitlah, menjadi teranglah, sebab terangmu datang, dan kemuliaan TUHAN terbit atasmu”

Tuhan Yesus bangkit, dan selama 40 hari Ia menyatakan dan membuktikan diriNya bahwa Dia bangkit dari kematian. Setelah Dia bangkit, maka Dia naik ke sorga dan duduk disebelah kanan Allah Bapa, dan memberikan Roh KudusNya kepada yang percaya padaNya.
Ketika Roh Kudus turun atas kita, maka kita menerima kuasa untuk menjadi saksi (Kis 1:8), hidup dipenuhi dengan mujisat,hidup dalam kelimpahan (Yoh 10:10; 14:16-17) dan kita dapat menyembah Dia dalam roh dan kebenaran (Yoh 4:23-24).
Karena Tuhan Yesus telah bangkit dari maut, maka kita juga sebagai orang percaya harus bangkit dan menjadi terang bagi dunia ini.
Pada saat pertama kali kita menerima Roh Kudus, maka roh kita akan menyala-nyala (Rom 12:11) namun dengan seiringnya waktu, hal itu menjadi biasa sehingga akhirnya roh kita menjadi kendor dan tertidur. Bahkan saat kesesakan akibat beban dan pergumulan hidup maka roh kita bisa mati. Paulus dalam Roma 12:11-12 telah memperingatkan orang percaya agar menjaga roh kita tetap menyala-nyala bagi Tuhan dan tetap menjaga urapan Roh Kudus.
Kita harus menjaga urapan Roh Kudus dalam hidup kita dan memastikan urapan Roh Kudus tetap ada dalam hidup kita.
Dalam Alkitab dikisahkan tentang Nabi Elia yang dipakai oleh Tuhan dengan luar biasa yaitu:
– Berdoa dengan otoritas  sehingga hujan itu tidak turun (I Raja 17:1)
– Kemenangan atas 450 nabi baal saat digunung Karmel (I Raja 18:20-40)
– Kekuatan fisik yang luar biasa yaitu berlari mendahului kereta kuda raja
Ahab (I Raja 18:46)
Walaupun semua itu telah dimiliki dan dialami oleh Elia, namun saat Izebel mengancamnya,maka Elia mengalami ketakutan (I Raja 19:1-7) “maka Izebel menyuruh seorang suruhan mengatakan kepada Elia: “Beginilah kiranya para allah menghukum aku, bahkan lebih lagi dari pada itu, jika besok kira-kira pada waktu ini aku tidak membuat nyawamu sama seperti nyawa salah seorang dari mereka itu. Maka takutlah ia, lalu bangkit dan pergi menyelamatkan nyawanya”
Banyak orang kristen juga saat mengalami kesulitan dan pergumulan  akan  mengalami ketakutan yang luarbiasa. Bahkan Elia depresi dan tawar hati sehingga dia berkata pada Tuhan “ambillah nyawaku”
Mengapa kita tidak boleh tawar hati? Karena  Jika kita tawar hati pada masa kesesakan, kecillah kekuatanmu (Ams 24:10). Ingat bahwa Tuhan tidak pernah memberikan  roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban (II Tim 1:7)
Setelah peristiwa itu, Elia menerima kekuatan dari Allah karena makanan yang diberikan padanya. Kita pun perlu “makanan” untuk mendapat kekuatan Allah. Makanan kita adalah Firman Tuhan, sebab Tuhan Yesus adalah roti hidup (Yoh 6:51) dan melakukan kehendak Bapa dan menyelesaikan pekerjaan Bapa (Yoh 4:34).
Akhirnya Elia sampai ke gunung Horeb dan dia masuk kedalam sebuah gua dan Tuhan bertanya kepada Elia,”apakah kerjamu disini?” namun Elia menjawab bahwa dia sedang bekerja segiat-giatnya bagi Tuhan, dan berkata bahwa semua orang mau membunuhnya.
Akhirnya Tuhan memerintahkan untuk keluar dan berdiri dihadapan Tuhan.
Demikian juga dengan kita, Tuhan mau agar kita bangkit dan menjadi terang sebab terangmu datang, dan kemuliaan TUHAN terbit atasmu.
(Yes 60:1).
Saat itu datanglah angin badai, gempa dan api namun Tuhan tidak ada disana (I Raja 19:12) Semua hal itu berbicara tentang masalah, pergumulan hidup, pencobaan yang kita alami, ujian iman dan kelihatannya Tuhan tidak ada disana. Namun saat angin sepoi-sepoi basa datang, Tuhan ada disana dan berbicara pada Elia (I Raja 19:13)
Arti rohaninya adalah seringkali Tuhan mau agar kita bisa tenang dalam hadiratNya dan menguasai diri saat berada dalam ketakutan dan pergumulan, tujuannya adalah agar kita dapat berdoa (1 Pet 4:7)
Ternyata Allah belum selesai dengan Elia, sehingga Allah menyuruh Elia untuk kembali kejalannya. Elia masih punya tugas khusus dari Allah yaitu mengurapi Hazael menjadi raja atas Aram. Juga Yehu, cucu Nimsi, diurapi menjadi raja atas Israel, dan Elisa bin Safat, dari Abel-Mehola, harus diurapi menjadi nabi menggantikan Elia. (I Raja 19:15-16).
Bukan hanya itu, Allah mau agar Elia melayani next generation yaitu tujuh ribu orang di Israel, yang tidak sujud menyembah Baal.
Apapun juga yang terjadi dalam hidup kita saat ini yaitu ketakutan akibat badai masalah, goncangan, pencobaan, marilah kita bangkit dan menjadi terang, sebab terangmu datang, dan kemuliaan TUHAN terbit atasmu…..amin

Oleh Pdt Philipus Yuwono M.Th

Kemerdekaan

[Khotbah] Merdeka dari Ketakutan, Minggu 15 April 2018

MERDEKA DARI KETAKUTAN
Yesaya 41:13
“Sebab Aku ini, TUHAN, Allahmu, memegang tangan kananmu dan berkata kepadamu: “Janganlah takut, Akulah yang menolong engkau.”

Semua orang pernah takut dan pasti akan mengalami ketakutan sebab hal itu adalah sesuatu yang manusiawi, namun disaat kita takut, Tuhan berkata agar kita jangan takut.
Saat ditaman Getsemani, Tuhan Yesus pun mengalami ketakutan sebab Dia tahu bahwa waktunya telah tiba bagi Dia untuk disalibkan. Alkitab menuliskan bahwa saat Tuhan Yesus ketakutan, maka peluhNya menjadi seperti titik-titik darah yang bertetesan ke tanah (Luk 22:44)
Ketakutan ternyata juga dialami Yesus dalam kemanusiaanNya.
Karena Dia pernah mengalami ketakutan, maka dia mau mengingatkan pada kita bahwa jangan kita takut, karena Dia pernah juga merasakan ketakutan seperti kita. Tuhan mau agar kita hidup bebas dari ketakutan.
Kita sangat mudah dikuasai ketakutan, tapi untuk merdeka dari ketakutan, itu tidak akan mudah. Namun jika kita mengenal siapa Tuhan kita, maka kita pasti tidak akan takut. Orang yang mengenal Dia, akan percaya sungguh-sungguh pada Tuhan, sehingga tidak ada ketakutan lagi dalam hidupnya.
Yang diinginkan oleh Tuhan adalah takut akan Tuhan, yaitu kepercayaan pada Tuhan dan pengenalan akan Tuhan.
Apa yang menyebabkan kita ketakutan? Karena masalah, sakit penyakit, kekurangan, pergumulan dll.
Yesaya 66:1a Beginilah firman TUHAN: Langit adalah takhta-Ku dan bumi adalah tumpuan kaki-Ku; rumah apakah yang akan kamu dirikan bagi-Ku, dan tempat apakah yang akan menjadi perhentian-Ku?
Jika kita percaya pada Tuhan, maka kita tidak akan takut.
Mengapa banyak orang yang hidup dalam ketakutan? Karena banyak orang yang tidak mau datang pada Dia
Keluaran 3:14 Firman Allah kepada Musa: “AKU ADALAH AKU.” Lagi firman-Nya: “Beginilah kaukatakan kepada orang Israel itu: AKULAH AKU telah mengutus aku kepadamu.”
Tuhan memanggil Musa untuk membebaskan bangsa Israel dari tanah perbudakan. Arti kata “Aku adalah Aku” artinya bahwa Allah ada dimasa lalu, masa sekarang dan akan datang, sehingga ini berarti bahwa kita tidak usah takut dengan apapun juga dalam hidup kita.
Apa yang Dia akan lakukan bagi kita?
1. Memberikan belas kasihanNya pada kita
Tuhan mau untuk memulihkan kehidupan kita, menyelesaikan semua permasalahan kita, menolong dan memberikan jalan keluar bagi setiap masalah hidup ini. Saat kita mengalami pergumulan, mintalah belas kasihanNya.
2. Menolong kita
Tuhan berjanji untuk memberikan pertolonganNya. Tuhan akan memberikan pertolonganNya yang tanpa batas, Dia mampu dan mau melakukan banyak hal yang tidak masuk akal, percayalah bahwa mujisat yang tidak masuk akal pasti terjadi bagi kita.
3. Mengikat janji dengan kita
Jika manusia yang berjanji maka sering diingkari. Namun jika Tuhan yang berjanji, maka Dia akan melakukanNya sebab  Dia mengikatkan diriNya dengan janji. Bilangan 23:19 “Allah bukanlah manusia, sehingga Ia berdusta bukan anak manusia, sehingga Ia menyesal. Masakan Ia berfirman dan tidak melakukannya, atau berbicara dan tidak menepatinya”
4. Menyelesaikan masalah kita.
Tuhan mau untuk menyelesaikan masalah yang sedang kita hadapi. Mungkin hari ini kita sedang mengalami masalah dalam kesehatan, hubungan dalam keluarga, masalah keuangan, pekerjaan, bisnis, studi dll. Percayalah pada Tuhan karena Dia mau dan mampu menyelesaikan masalah kita.
Ibrani 11:1 “Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat”
Kata “harap” dalam bahasa Yunani adalah “el pid zo” artinya percaya pada Tuhan satu kali lagi, berharap pada Tuhan satu kali lagi, menantikan Tuhan satu kali lagi. Hal ini berarti bahwa kita tidak punya alasan lagi untuk ketakutan menghadapi hidup ini, karena Dia adalah sumber pertolongan kita…..amin.

Oleh Pdt Harry Rumerung

Blessing Hana

[Khotbah] HANA’S BLESSING, Minggu 08 April 2018

HANA’S BLESSING

I Samuel 1:1-4

“Ada seorang laki-laki dari Ramataim-Zofim, dari pegunungan Efraim, namanya Elkana bin Yeroham bin Elihu bin Tohu bin Zuf, seorang Efraim Orang ini mempunyai dua isteri: yang seorang bernama Hana dan yang lain bernama Penina; Penina mempunyai anak, tetapi Hana tidak”

 

Hana adalah isteri Elkana, seorang perempuan yang mandul yang tidak memiliki anak. Namun pada suatu saat, Hana mengalami “new season / new beginning” atau suatu musim yang baru, permulaan baru.

Apa yang dialami oleh Hana?

  1. Penderitaan (Suffering)

-Hana mengalami penderitaan dan tekanan yang luarbiasa dari madunya yaitu Penina, yang sering menyakitkan hatinya dan membuatnya gusar (I Sam 1:6)

-Hana dicaci maki oleh Penina dan bicaranya kurang ajar (I Sam 2:3)

-Hana terhuyung huyung tanpa pegangan (I Sam 2:4)

-Hana dianggap hina seperti debu, tidak ada nilai dan martabat (I Sam 2:8)

Untungnya Hana berada dilingkungan rohani yang benar, karena suaminya dan Hana selalu pergi kerumah Tuhan dengan setia setiap tahun.

Keadaan ini memunculkan upaya untuk mencari Tuhan.

Seperti Hana, semua orang pasti pernah mengalami pergumulan dan penderitaan, namun hal ini membuat kita harus semakin mencari Tuhan dengan sungguh sungguh.

Tuhan seringkali mengijinkan kita untuk masuk dalam pergumulan dan penderitaan untuk membuat kita naik level. Dalam Ulangan 32:11 “Laksana rajawali menggoyangbangkitkan isi sarangnya, melayang-layang di atas anak-anaknya, mengembangkan sayapnya, menampung seekor, dan mendukungnya di atas kepaknya”

Demikian juga dengan kita yang diijinkan oleh Tuhan untuk mengalami pergumulan.

Dalam Alkitab dikisahkan tentang beberapa orang yang mengalami

pergumulan hidup seperti Hana yaitu:

– Elia yang ada disungai Kerit, dan diberi makan oleh Tuhan, namun akhirnya sungai itu menjadi kering, ini adalah zona nyaman Elia. Tuhan menyuruh Elia ke Sarfat kepada seorang janda. Dan ternyata Elia dipelihara oleh Tuhan, selama musim kemarau.

– Yusuf ada dikemah ayahnya yaitu zona nyamannya, namun akhirnya dia dijual sebagai budak ke Mesir, difitnah, dilupakan dan dipenjarakan. Namun akhirnya Tuhan mengangkat hidup Yusuf.

– Rasul-rasul yang selalu berkumpul dalam persekutuan di Yerusalem, namun Tuhan ijinkan goncangan terjadi yaitu penganiayaan sehingga mereka pergi dari Yerusalem untuk memberitakan Injil keseluruh dunia.

Seringkali Tuhan membawa kita kedalam keadaan yang tidak nyaman untuk membuat kita dapat dipakai oleh Tuhan dengan dahsyat.

Dibalik sebuah penderitaan, Tuhan menghadirkan kemuliaan besar.

  1. Berserah kepada Tuhan (Surrender)

Hana menyerahkan seluruh pergumulannya kepada Tuhan, hal ini dapat kita lihat lewat apa yang dilakukan oleh Hana yaitu:

– Hana kerumah Tuhan (I Sam 1:7) “Demikianlah terjadi dari tahun ke tahun; setiap kali Hana pergi ke rumah TUHAN”

Jika kita mengalami pergumulan dan penderitaan, marilah datang kerumah Tuhan dan mencari wajahNya, jangan mencari pertolongan kepada yang lain. Jangan menjauhkan diri dari persekutuan, mintalah belas kasihan Tuhan.

– Hana memandang pada Tuhan (I Sam 1:10) “dan dengan hati pedih ia berdoa kepada TUHAN sambil menangis tersedu-sedu”

Saat mengalami pergumulan, marilah mata kita memandang kepada Tuhan untuk berharap kepada kasih setia dan pertolonganNya.

– Hana memohon kepada Tuhan (I Sam 1:11) “Kemudian bernazarlah ia, katanya: “TUHAN semesta alam, jika sungguh-sungguh Engkau memperhatikan sengsara hamba-Mu ini dan mengingat kepadaku dan tidak melupakan hamba-Mu ini, tetapi memberikan kepada hamba-Mu ini seorang anak laki-laki, maka aku akan memberikan dia kepada TUHAN untuk seumur hidupnya dan pisau cukur tidak akan menyentuh kepalanya.”

Saat kita mengalami pergumulan, marilah kita meminta pada Tuhan, sebab Dia akan memberikan pertolonganNya.

Saat kita mengalami pergumulan hidup, mari berharaplah kepada TUHAN, hai Israel! Sebab pada TUHAN ada kasih setia, dan Ia banyak kali mengadakan pembebasan (Maz 130:7)…..amin

 

Oleh Pdt Honny Supit Sirapanji M.Th

KasihAllah

[Khotbah] Kasih Allah, Minggu 01 April 2018

KASIH ALLAH

Yohanes 3:16

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.

Pengorbanan Yesus dengan cara mati disalibkan diatas kayu salib membuktikan pada manusia bahwa Allah begitu mengasihi manusia, sehingga Dia rela mengorbankan diriNya untuk menjadi penebus bagi manusia yang berdosa. Dan kedatangan Yesus kebumi ini untuk memperlihatkan kasih Allah dan mengajarkannya bagi kita agar kita juga hidup dalam kasih (Yoh 17:26) “dan Aku telah memberitahukan nama-Mu kepada mereka dan Aku akan memberitahukannya, supaya kasih yang Engkau berikan kepada-Ku ada di dalam mereka dan Aku di dalam mereka.” Oleh sebab itu kita harus hidup dalam kasih sebab barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih. (I Yoh 4:8)

Kata “Kasih” dalam bahasa Mandarin adalah “Ai”. Kata “Ai” dalam aksara mandarin memiliki arti yang dalam yaitu :

– Garis menyamping diartikan yaitu menjadi satu

– Tiga titik diartikan yaitu ketiga pribadi yaitu Bapa, Putera dan Roh Kudus. – Pagar diartikan yaitu menaungi atau menguasai

– Aksara “Sin” yaitu artinya hati

– Aksara “You” yaitu artinya teman atau sahabat

Arti keseluruhannya adalah Ketiga pribadi yaitu Bapa, Putera dan Roh Kudus yang adalah satu senantiasa menaungi hati kita, sehingga kita tidak lagi dianggap atau disebut sebagai hamba, tapi disebut sebagai sahabat. Inilah kasih Allah.

Bukti kasih Tuhan Yesus, adalah Dia mau datang kedunia ini dan mati bagi dosa kita, oleh karena itu kita harus hidup dalam kasih dan mengasihi Tuhan dan sesama (Mat 22:37-40)

Saat kasih Allah ada dalam hidup kita, maka kita mampu untuk menjaga hati kita dari segala kejahatan. Dalam Amsal 4:23 dikatakan bahwa jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan karena dari situlah terpancar kehidupan. Dalam prakteknya, sulit untuk menjaga hati, seperti yang terjadi pada Musa yang tidak mampu menjaga hati sebab orang Israel menggusarkan hatinya sehingga dia berdosa pada Allah.

Dalam Wahyu 2:4-5 “Namun demikian Aku mencela engkau, karena engkau telah meninggalkan kasihmu yang semula”

Tuhan menegur jemaat Efesus yang telah kehilangan dan meninggalkan kasih yang mula-mula.

Jangan kita menjadi orang percaya yang orientasinya hanya pada sisi agama kristen atau agamawi, namun Tuhan ingin agar kita lebih dalam memahami tentang Tuhan Yesus Kristus dan kasihNya. Jika tidak, maka kita akan meninggalkan kasih yang mula-mula kepada Tuhan. Akibat bagi orang yang kehilangan kasih mula-mula yaitu Tuhan akan mengambil kaki dian itu dari hidup kita.

Paskah adalah restitusi yaitu dikembalikan/pemulihan yang artinya bahwa keadaan manusia itu dikembalikan agar segambar dan serupa dengan Allah seperti yang terjadi pada permulaan penciptaan manusia. Hal itu terjadi karena ketaatan Tuhan Yesus kepada kehendak Bapa. Dan akibat ketaatanNya, maka Dia bangkit dari kematian. Ketaatan Yesus dapat juga kita lihat saat Dia datang disungai Yordan kepada Yohanes pembaptis untuk dibaptis supaya menggenapkan seluruh kehendak Allah.

Bahkan saat ditaman Getsemani, Dia berdoa dan mau taat untuk meminum cawan kematian yaitu disalibkan untuk menebus dosa manusia.

Seperti teladan Yesus yang taat, maka kita juga harus taat kepada kehendak Bapa dan firmanNya (Yes 48:18) “Sekiranya engkau memperhatikan perintah-perintah-Ku, maka damai sejahteramu akan seperti sungai yang tidak pernah kering, dan kebahagiaanmu akan terus berlimpah seperti gelombang-gelombang laut yang tidak pernah berhenti”

Taatlah walaupun kita tidak mengerti.

Ketaatan Yesus mengakibatkan kita beroleh keselamatan sehingga Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama,supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: “Yesus Kristus adalah Tuhan,” bagi kemuliaan Allah, Bapa” (Filipi 2:9-11)

Kematian Yesus membuat kita dibenarkan, dan kebangkitan Yesus memberikan kita kemenangan dan kehidupan (Roma 4:25)….amin.

 

Oleh Pdt David Tjakra Wisaksana (Bandung)

Berbuah

[Khotbah] Berbuah, Minggu 25 Maret 2018

B E R B U A H
Matius 12:33
“Jikalau suatu pohon kamu katakan baik, maka baik pula buahnya; jikalau suatu pohon kamu katakan tidak baik, maka tidak baik pula buahnya. Sebab dari buahnya pohon itu dikenal”

Banyak orang jika ditanya “apa tujuan hidupmu, mereka akan berkata, menjadi kaya, pandai, berhasil dll.” Namun tujuan hidup manusia adalah mempermuliakan nama Tuhan, dan berbuah bagi kemuliaan nama Tuhan.
Tuhan menghendaki agar kita berbuah dalam Tuhan, dan jangan sampai bertumbuh diluar Dia, sebab diluar Tuhan, kita pasti tidak akan bisa berbuah.
Dalam Lukas 3:9 “Kapak sudah tersedia pada akar pohon dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, akan ditebang dan dibuang ke dalam api.” Ayat ini adalah suatu kebenaran yang harus menjadi perhatian dan awasan buat kita sebagai orang percaya saat ini. Karena jika kita tidak berbuah, maka akan ditebang dan dibuang kedalam api.
Alkitab mencatat tentang Daud seorang yang menyenangkan hati Tuhan karena Dia melakukan selalu kehendak Tuhan dalam zamannya, dan menghasilkan buah dalam kehidupannya.
Tuhan Yesus adalah pokok anggur yang benar dan kita adalah ranting-rantingNya yang harus selalu melekat pada pokok anggur yang benar. Tuhan tidak mau jika kita hanya melekat pada pokok anggur itu, sebab setiap ranting harus berbuah, jika tidak berbuah, dipotong-Nya dan setiap ranting yang berbuah, dibersihkan-Nya, supaya ia lebih banyak berbuah (Yoh 15:2).
Mengapa ranting itu harus dipotong dan dibersihkan?
1. Karena ada penyakit
Sebuah tanaman jika terkena penyakit pada dahan-dahannya, maka pemiliknya akan memotong dan memangkas dahan yang berpenyakit itu. Tentulah sangat sakit saat dahan itu dipotong. Dan saat dipotong, maka dahan itu akan mengeluarkan getah sebagai reaksi atas pemotongan bagian dahan itu.
Demikian juga dengan kita, jika kita ingin agar berbuah, kita harus merelakan diri kita untuk dipotong, dibersihkan oleh Tuhan.
Mungkin itu karakter, sifat, kebiasaan, hobby, dll yang tidak baik dari hidup kita, sehingga Tuhan harus memotongnya dan membersihkannya.
Dalam kitab Daniel, dikisahkan tentang raja Nebukadnezar yang sangat sombong dan sangat arogan karena meyombongkan diri dengan semua pencapaiannya (Daniel 4:29-30)”berkatalah raja: “Bukankah itu Babel yang besar itu, yang dengan kekuatan kuasaku dan untuk kemuliaan kebesaranku telah kubangun menjadi kota kerajaan?”
Akibatnya adalah Nebukadnezar direndahkan oleh Tuhan dan dihalau dari antara manusia dan tempat tinggalnya ada di antara binatang-binatang di padang; kepadanya diberikan makanan rumput seperti kepada lembu; dan  akan berlaku atas Nebukadnezar sampai tujuh masa berlalu, hingga dia mengakui, bahwa Yang Mahatinggi berkuasa atas kerajaan manusia dan memberikannya kepada siapa yang dikehendaki-Nya!” (Daniel 4:32)
Apa yang terjadi  pada Nebukadnezar adalah dia dipotong, dibersihkan oleh Tuhan. Namun akhirnya Nebukadnezar menengadah ke langit, dan akal budinya kembali lagi, lalu dia memuji Yang Mahatinggi dan membesarkan dan memuliakan Allah Yang Hidup. Nebukadnezar akhirnya bertobat. Inilah sikap orang yang telah dipotong dan dibersihkan carang-carangnya yaitu kehidupan pribadinya.
Seperti juga yang terjadi pada Daud yang dibersihkan hidupnya oleh Tuhan. Saat Daud melarikan diri dari pemberontakan Absalom, maka seorang keturunan Benyamin yang bernama Simei mengutuki Daud dan melemparinya dengan batu. Namun Daud tidak membalas perlakuan Simei, sebaliknya Daud mengampuni Simei.
Daud adalah orang yang telah mengalami begitu banyak proses dari Tuhan.
2. Agar nama Tuhan yang dipermuliakan
II Sam 22:47 “TUHAN hidup! Terpujilah gunung batuku, dan ditinggikanlah kiranya Allah gunung batu keselamatanku”
Tujuan Allah memproses hidup kita yaitu agar Tuhan dipermuliakan lewat kehidupan kita. Artinya bahwa kita dapat menjadi berkat bagi orang lain, saat mereka melihat kehidupan kita. Mengapa? Karena ada Kristus dalam hidup kita. Percayalah bahwa setiap proses Tuhan dalam hidup kita akan mendatangkan kebaikan bagi kita.
Sebagai orang percaya, Dia mau agar kita jadi berkat dan berbuah bagi kemuliaan nama Tuhan…..amin

Oleh Pdt Ruby Dirgantara (Purwekerto)

Super Father

[Khotbah] Super Father, Minggu 18 Maret 2018

SUPER  FATHER

Kejadian 15:6

“Lalu percayalah Abram kepada TUHAN, maka TUHAN memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran”

 

Tuhan berfirmanlah kepada Abram agar dia pergi dari negerinya dan dari sanak saudaranya ke negeri yang akan Tuhan tunjukkan kepadanya, dan janji Tuhan bahwa Abram akan menjadi bangsa yang besar, diberkati dan membuat namanya  masyhur dan akan menjadi berkat bagi bangsa-bangsa. Respon Abram saat itu sangat luarbiasa, sehingga dapat kita katakan bahwa Abram memiliki kerohanian yang baik, buktinya:

  1.         Abram meninggalkan Ur Kasdim (Kej 12:1)

“Berfirmanlah TUHAN kepada Abram: “Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu”

Abram melakukan Perjalanan dari Ur Kasdim ke Haran dan masuk ketanah perjanjian hal ini berarti :

  1. Meninggalkan tempat berhala

Yosua 24:2 “Berkatalah Yosua kepada seluruh bangsa itu: “Beginilah firman TUHAN, Allah Israel: Dahulu kala di seberang sungai Efrat, di situlah diam nenek moyangmu, yakni Terah, ayah Abraham dan ayah Nahor, dan mereka beribadah kepada allah lain”

Abram meninggalkan tempat tinggalnya yang dahulu adalah tempat penyembahan kepada berhala. Hal ini merupakan gambaran kehidupan lama, yang harus ditinggalkan dan mengambil keputusan untuk bertobat dan menerima kehidupan baru dalam Tuhan.

  1. Mentaati panggilan

Abram taat kepada panggilan Tuhan pada dirinya.

Ada beberapa tingkatan panggilan yaitu:

– Panggilan untuk bertobat

– Panggilan untuk beribadah

– Panggilan untuk melakukan firman Tuhan

– Panggilan untuk melayani

  1.         Abram percaya kepada janji Tuhan (Kej 15:6)

Roma 4:18 “Sebab sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun Abraham berharap juga dan percaya, bahwa ia akan menjadi bapa banyak bangsa, menurut yang telah difirmankan: “Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu.”

Bagaimanakah sikap yang benar terhadap janji Tuhan?

  1. Harus dipercaya, jika tidak itu adalah dosa (Maz 119:11)

“Dalam hatiku aku menyimpan janji-Mu, supaya aku jangan berdosa terhadap Engkau”

Percayalah kepada semua janji Tuhan pasti digenapi dalam hidup kita.

  1. Diminta (II Sam 7:25)

“Dan sekarang, ya TUHAN Allah, tepatilah untuk selama-lamanya janji yang Kauucapkan mengenai hamba-Mu ini dan mengenai keluarganya dan lakukanlah seperti yang Kaujanjikan itu”

Mintalah agar semua janji Tuhan terjadi atas hidup kita. Mintalah apa yang menjadi kebutuhan dan kerinduan kita kepada Tuhan.

  1. Direnungkan (Luk 2:19)

“Tetapi Maria menyimpan segala perkara itu di dalam hatinya dan merenungkannya”

Renungkanlah janji Tuhan itu siang dan malam. Kata merenungkan juga berarti bahwa kita membayangkan apa yang kita inginkan itu telah menjadi kenyataan.

  1. Dirindukan (Maz 119:82)

“Habis mataku merindukan janji-Mu; aku berkata: “Bilakah Engkau akan menghiburkan aku?”

Rindukanlah semua janji Tuhan tergenapi dalam hidup kita.

  1.         Abram menghormati Tuhan (Kej 17:17)

“Tertunduklah Abraham dan tertawa” dalam bhs Inggris adalah “bowed down to the ground” hal ini artinya adalah menyembah sampai dahi menyentuh tanah. Hal ini adalah bukti bahwa Abraham sangat menghormati Allah.

Abram adalah seorang yang rohani namun dia menjadi down grade karena terpengaruh oleh saran istrinya  Sarai yang kurang rohani.

Mengapa? Karena ada tawaran yang menarik dari Sarai untuk mengambil Hagar sebagai isterinya.

Akibat hal tersebut, maka Abram salah bertindak yaitu:

  1. Melepaskan otoritasnya dengan cara memberikan wewenang kepada Sarai untuk menindas Hagar (Kej 16:6) “Kata Abram kepada Sarai: “Hambamu itu di bawah kekuasaanmu; perbuatlah kepadanya apa yang kaupandang baik.” Lalu Sarai menindas Hagar, sehingga ia lari meninggalkannya”
  2. Melahirkan anak yang bermasalah yaitu Ismael yang tingkah lakunya seperti keledai liar (Kej 16:12) “Seorang laki-laki yang lakunya seperti keledai liar, demikianlah nanti anak itu; tangannya akan melawan tiap-tiap orang dan tangan tiap-tiap orang akan melawan dia, dan di tempat kediamannya ia akan menentang semua saudaranya.”
  3. Mengusir Ismael (Kej 21:14) “Keesokan harinya pagi-pagi Abraham mengambil roti serta sekirbat air dan memberikannya kepada Hagar. Ia meletakkan itu beserta anaknya di atas bahu Hagar, kemudian disuruhnyalah perempuan itu pergi. Maka pergilah Hagar dan mengembara di padang gurun Bersyeba”

Namun akhirnya Abram diupgrade oleh Tuhan menjadi Abraham, dan dia menjadi bapa segala bangsa, bapa orang percaya….amin

Oleh Pdt Honny Supit Sirapanji M.Th

Be yourself

[Khotbah] Be Yourself, Minggu 11 Maret 2018

BE YOUR SELF

Mazmur 73:1-28

“Mazmur Asaf. Sesungguhnya Allah itu baik bagi mereka yang tulus hatinya, bagi mereka yang bersih hatinya, Tetapi aku, sedikit lagi maka kakiku terpeleset, nyaris aku tergelincir”

 

Pemazmur yaitu Asaf sedang menceritakan tentang keadaannya sebagai seorang pelayan Tuhan yang melayani Tuhan dengan segenap hati, namun mengalami kekecewaan bahkan hampir saja mundur dari pelayanan. Hal ini disebabkan karena Asaf melihat keadaan buruk yang dia alami, dan sebaliknya dia melihat orang fasik yang keadaannya lebih baik dan beruntung dibandingkan dirinya.

Hal ini pun sering terjadi dalam kehidupan orang percaya yang mengalami pergumulan hidup yang begitu berat, namun saat melihat orang fasik, keadaan mereka jauh lebih baik dari kita.

Akibatnya adalah ada orang percaya yang kecewa dan akan berkata “buat apa saya melayani Tuhan?   Mengapa keadaan saya tidak sebaik orang lain?”

Asaf cemburu dengan orang fasik, dan hal ini juga sering dialami oleh banyak orang kristen bahkan pelayan Tuhan yang iri karena melihat bahwa orang lain lebih baik keadaannya daripada dirinya.

Ukuran tentang kedekatan dengan Tuhan bukanlah seperti yang dipikirkan oleh kebanyakan orang, bahwa kita akan diberkati, sehat, selalu dilindungi Tuhan. Jika demikian, apa ukuran bahwa kita sudah benar dimata Tuhan? Didalam Mazmur 73, Asaf juga mempertanyakan tentang hal ini, karena dia tidak mengerti mengapa hal buruk yang terjadi atas dirinya, sedangkan orang fasik hidup dalam kesenangan.

Asaf mengalami kegalauan dan kebingungan akan apa yang terjadi. Bukankah hal ini juga terjadi atas hidup kita, dimana kita mengalami sesuatu yang tidak baik, dan orang jahat mengalami sesuatu yang baik.

Dalam kondisi apapun, Tuhan mau agar kita tetap bersukacita dan bersyukur atas semua yang terjadi dalam hidup kita.

Dalam Alkitab juga dituliskan tentang Rasul Paulus yang mengalami hal yang buruk dalam pelayanannya, namun dia tetap bersyukur dan tetap maju melayani Tuhan. Dalam II Kor 11:23 “Apakah mereka pelayan Kristus? –aku berkata seperti orang gila–aku lebih lagi! Aku lebih banyak berjerih lelah; lebih sering di dalam penjara; didera di luar batas; kerap kali dalam bahaya maut”

Walaupun banyak hal buruk yang dialami Paulus, dia tetap maju dan melayani Tuhan sampai akhir hidupnya. Demikian juga dengan kita, bahwa jika kita mengalami masalah dan pergumulan hidup, tetaplah untuk maju dan terus melayani Tuhan.

Paham Hedonisme kini telah masuk kedalam gereja Tuhan, sehingga banyak orang kristen yang memburu kesenangan duniawi, dan tidak siap atau tidak mau untuk mengalami pergumulan hidup.

Dalam keputus asaannya, maka Asaf berkata “Sia-sia sama sekali aku mempertahankan hati yang bersih, dan membasuh tanganku, tanda tak bersalah (Mazmur 73:13).  Suatu saat Tuhan akan membawa kita kedalam pengalaman seperti yang dialami oleh Asaf, namun hal itu sangat sulit untuk dimengerti, sampai akhirnya dia masuk ke dalam tempat kudus Allah, dan memperhatikan kesudahan orang fasik bahwa sesungguhnya di tempat-tempat licin Tuhan taruh mereka dan menjatuhkan mereka sehingga hancur (Maz 73:17-18). Ketahuilah bahwa jabatan, kekayaan, popularitas merupakan hal-hal yang berbahaya dimata Tuhan. Mengapa? Karena mereka sedang berada ditempat yang licin sehingga mudah tergelincir dan binasa.

Semua tidak berubah, tapi yang berubah adalah cara pandang Asaf terhadap keadaan sekelilingnya mulai berubah.

Saat Asaf masuk kedalam hadirat Tuhan, maka dia memiliki cara pandang yang berbeda. Ada satu waktu dalam hidup kita, dimana kita harus mengalami perjumpaan pribadi dengan Tuhan yaitu saat masuk kedalam hadirat Tuhan.

Selama ini Asaf melihat dirinya dan membandingkannya dengan orang lain (orang fasik) sehingga Asaf menjadi kecewa.

Jangan membandingkan diri kita dengan orang lain, jadilah diri kita sendiri.

Dimata Tuhan kita adalah orang yang spesial dimata Tuhan, tidak sama dengan orang lain. Saat Asaf dalam kekecewaan, dia mengambil keputusan untuk tetap ada didekat Tuhan.

Tuhan ingin agar kita masuk ketempat kudus Tuhan yaitu hadirat Tuhan, agar kita dapat mengerti tentang apa yang terjadi dalam hidup kita, dan bagaimana kita bersikap dalam pergumulan hidup ini….amin.

Oleh Pdt Ir. Lui Sirapanji. MA