[Khotbah] Be Yourself, Minggu 11 Maret 2018

BE YOUR SELF

Mazmur 73:1-28

“Mazmur Asaf. Sesungguhnya Allah itu baik bagi mereka yang tulus hatinya, bagi mereka yang bersih hatinya, Tetapi aku, sedikit lagi maka kakiku terpeleset, nyaris aku tergelincir”

 

Pemazmur yaitu Asaf sedang menceritakan tentang keadaannya sebagai seorang pelayan Tuhan yang melayani Tuhan dengan segenap hati, namun mengalami kekecewaan bahkan hampir saja mundur dari pelayanan. Hal ini disebabkan karena Asaf melihat keadaan buruk yang dia alami, dan sebaliknya dia melihat orang fasik yang keadaannya lebih baik dan beruntung dibandingkan dirinya.

Hal ini pun sering terjadi dalam kehidupan orang percaya yang mengalami pergumulan hidup yang begitu berat, namun saat melihat orang fasik, keadaan mereka jauh lebih baik dari kita.

Akibatnya adalah ada orang percaya yang kecewa dan akan berkata “buat apa saya melayani Tuhan?   Mengapa keadaan saya tidak sebaik orang lain?”

Asaf cemburu dengan orang fasik, dan hal ini juga sering dialami oleh banyak orang kristen bahkan pelayan Tuhan yang iri karena melihat bahwa orang lain lebih baik keadaannya daripada dirinya.

Ukuran tentang kedekatan dengan Tuhan bukanlah seperti yang dipikirkan oleh kebanyakan orang, bahwa kita akan diberkati, sehat, selalu dilindungi Tuhan. Jika demikian, apa ukuran bahwa kita sudah benar dimata Tuhan? Didalam Mazmur 73, Asaf juga mempertanyakan tentang hal ini, karena dia tidak mengerti mengapa hal buruk yang terjadi atas dirinya, sedangkan orang fasik hidup dalam kesenangan.

Asaf mengalami kegalauan dan kebingungan akan apa yang terjadi. Bukankah hal ini juga terjadi atas hidup kita, dimana kita mengalami sesuatu yang tidak baik, dan orang jahat mengalami sesuatu yang baik.

Dalam kondisi apapun, Tuhan mau agar kita tetap bersukacita dan bersyukur atas semua yang terjadi dalam hidup kita.

Dalam Alkitab juga dituliskan tentang Rasul Paulus yang mengalami hal yang buruk dalam pelayanannya, namun dia tetap bersyukur dan tetap maju melayani Tuhan. Dalam II Kor 11:23 “Apakah mereka pelayan Kristus? –aku berkata seperti orang gila–aku lebih lagi! Aku lebih banyak berjerih lelah; lebih sering di dalam penjara; didera di luar batas; kerap kali dalam bahaya maut”

Walaupun banyak hal buruk yang dialami Paulus, dia tetap maju dan melayani Tuhan sampai akhir hidupnya. Demikian juga dengan kita, bahwa jika kita mengalami masalah dan pergumulan hidup, tetaplah untuk maju dan terus melayani Tuhan.

Paham Hedonisme kini telah masuk kedalam gereja Tuhan, sehingga banyak orang kristen yang memburu kesenangan duniawi, dan tidak siap atau tidak mau untuk mengalami pergumulan hidup.

Dalam keputus asaannya, maka Asaf berkata “Sia-sia sama sekali aku mempertahankan hati yang bersih, dan membasuh tanganku, tanda tak bersalah (Mazmur 73:13).  Suatu saat Tuhan akan membawa kita kedalam pengalaman seperti yang dialami oleh Asaf, namun hal itu sangat sulit untuk dimengerti, sampai akhirnya dia masuk ke dalam tempat kudus Allah, dan memperhatikan kesudahan orang fasik bahwa sesungguhnya di tempat-tempat licin Tuhan taruh mereka dan menjatuhkan mereka sehingga hancur (Maz 73:17-18). Ketahuilah bahwa jabatan, kekayaan, popularitas merupakan hal-hal yang berbahaya dimata Tuhan. Mengapa? Karena mereka sedang berada ditempat yang licin sehingga mudah tergelincir dan binasa.

Semua tidak berubah, tapi yang berubah adalah cara pandang Asaf terhadap keadaan sekelilingnya mulai berubah.

Saat Asaf masuk kedalam hadirat Tuhan, maka dia memiliki cara pandang yang berbeda. Ada satu waktu dalam hidup kita, dimana kita harus mengalami perjumpaan pribadi dengan Tuhan yaitu saat masuk kedalam hadirat Tuhan.

Selama ini Asaf melihat dirinya dan membandingkannya dengan orang lain (orang fasik) sehingga Asaf menjadi kecewa.

Jangan membandingkan diri kita dengan orang lain, jadilah diri kita sendiri.

Dimata Tuhan kita adalah orang yang spesial dimata Tuhan, tidak sama dengan orang lain. Saat Asaf dalam kekecewaan, dia mengambil keputusan untuk tetap ada didekat Tuhan.

Tuhan ingin agar kita masuk ketempat kudus Tuhan yaitu hadirat Tuhan, agar kita dapat mengerti tentang apa yang terjadi dalam hidup kita, dan bagaimana kita bersikap dalam pergumulan hidup ini….amin.

Oleh Pdt Ir. Lui Sirapanji. MA

Leave a Reply