[KHOTBAH] GREAT PEOPLE ON THE BORDER LINE, 07 Juli 2019
GREAT PEOPLE ON THE BORDER LINE
Lukas 17:11-19
“Dalam perjalanan-Nya ke Yerusalem Yesus menyusur perbatasan Samaria dan Galilea. Ketika Ia memasuki suatu desa datanglah sepuluh orang kusta menemui Dia. Mereka tinggal berdiri agak jauh”
Pada waktu itu Yesus melintasi perbatasan Samaria dan Galilea, dan ada sepuluh orang kusta yang masuk kedesa itu dan datang menemui Dia.
Kejadian ini sangat aneh karena orang yang sakit kusta dilarang untuk omasuk keperkemahan atau ke pemukiman orang banyak, hal ini tertulis dalam Taurat yaitu di kitab Imamat 13:45-46 “Selama ia kena penyakit itu (kusta) ia tetap najis; memang ia najis; ia harus tinggal terasing, di luar perkemahan itulah tempat kediamannya”
Tapi mengapa orang kusta bisa masuk kedalam desa? Karena mereka tinggal diperbatasan antara Samaria dan Galilea.
Samaria adalah tempat diluar Israel artinya yaitu kehidupan yang tidak rohani. Galilea adalah tempat yang didalam daerah Israel artinya yaitu kehidupan yang rohani.
Orang-orang kusta ini tinggal dan hidup di daerah perbatasan.
Bagaimana keadaan orang yang ada diperbatasan? Yaitu hidup abu-abu artinya hidup yang tidak jelas, hukum yang tidak jelas, jarang dibicarakan, terjadi tarik menarik antara mentaati aturan atau melanggar aturan.
Demikian juga kehidupan kita jika tinggal didaerah perbatasan atau area abu-abu, maka kita akan hidup rohani bercampur dengan hidup duniawi. Hal ini tidak mungkin bisa terjadi karena tidak mungkin terang dapat bercampur dengan kegelapan.
Salah satu orang yang hidup diperbatasan antara kehidupan rohani dan kehidupan duniawi adalah Daniel. Daniel hidup diantara iman Ibrani vs gaya hidup Babilonia dan ini adalah hal yang sulit baginya.
Namun satu hal yang luarbiasa adalah Daniel hidup di Babel tapi Babel tidak hidup dalam diri Daniel. Daniel memililih untuk menjalani hidup yang berbeda dari lingkungan sekitarnya.
Apakah yang dilakukan Daniel?
- Berpantang makan makanan yang menajiskan (Dan 1:8,15)
“Daniel berketetapan untuk tidak menajiskan dirinya dengan santapan raja dan dengan anggur yang biasa diminum raja; dimintanyalah kepada pemimpin pegawai istana itu, supaya ia tak usah menajiskan dirinya”
Pada waktu itu makanan dan minuman di Babel telah dipersembahkan kepada berhala. Makanan yang dipersembahkan kepada berhala adalah makanan yang najis atau disebut dengan “sesajen”.
Bagimana sikap kita terhadap sesajen?
- Yang tidak diketahui, contohnya:
– yang ada dipasar (I Kor 10:25) sehingga kita tidak usah mencari tahu asal usulnya.
– yang ada dirumah atau ditempat pesta (l Kor 10:27) kita tidak usah memeriksa asal usulnya.
- Yang sudah diketahui telah dipersembahkan kepada berhala.
(I Kor 10:28) jangan dimakan karena telah dipersembahkan kepada berhala. Karena ada akibat jika kita makan makanan yang telah dipersembahkan kepada berhala yaitu dapat mengakibatkan persekutuan dengan roh jahat (l Kor 10:19), dapat jadi batu sandungan (l Kor 10:32), tidak menguntungkan atau tidak merugikan (l Kor 8:8).
Jadi kesimpulannya adalah jika memang makanan dan minuman tersebut telah dipersembahkan kepada berhala maka jangan dimakan.
- Mempertahankan kebiasaannya yaitu berdoa (Dan 6:8,11)
“Demi didengar Daniel, bahwa surat perintah itu telah dibuat, pergilah ia ke rumahnya. Dalam kamar atasnya ada tingkap-tingkap yang terbuka ke arah Yerusalem; tiga kali sehari ia berlutut, berdoa serta memuji Allahnya, seperti yang biasa dilakukannya”
Daniel mempunyai kebiasaan yaitu berdoa tiga kali sehari.
Banyak kebiasaan dalam hidup ini yang harus dipertahankan seperti beribadah, berdoa, bersekutu memuji menyembah Tuhan.
Contoh kebiasaan rohani yang harus dipertahankan adalah menabur sebab apa yg ditabur itu dituai, mengembalikan perpuluhan, membawa kabar baik dan berbuat baik (Gal 6:10) “Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman”
Semua hal itu merupakan suatu kebiasaan baik yang harus terus kita lakukan dan dipertahankan.
- Mempertahankan imannya (Dan 6:14)
Daniel mempertahankan imannya dan mempertaruhkan semuanya yaitu:
-Kedudukannya yaitu jabatanya
-Keselamatan dirinya dan keluarganya
-Martabatnya sebagai orang Ibrani
-Tuhannya, sebab jika dia akhirnya mati dimakan singa, maka nama Tuhan yang tercemar.
Daniel berani mengambil resiko karena mempertahankan imannya pada Allah. Pertanyaannya bagi kita adalah apakah kita juga berani mengambil resiko dengan memiliki hati yang sungguh-sungguh taat dan setia dalam mengiring dan melayani Tuhan dan sesama???…..amin.
Oleh Pdt Honny Supit Sirapanji M.Th









