[Khotbah] Kedewasaan Berpikir, Minggu 12 Pebruari 2017
Amsal 23:7
“Sebab seperti orang yang membuat perhitungan dalam dirinya sendiri demikianlah ia” dalam terjemahan bahasa Inggris “For as he thinketh within himself, so is he”Tuhan inginkan agar kita dibaharui di dalam roh dan pikiran (Efesus 4:23)
Dan janganlah kita menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budi, sehingga kita dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna (Roma 12:2)
Pikiran atau budi dalam bahasa Yunani adalah Nous-Nooce
artinya intelek, pikiran (illahi atau manusia, dalam pikiran, perasaan, dan kehendak) dengan implikasi yang berarti : pikiran atau pemahaman.
Kata bertobat Metanoia – Metanoeho, terdiri dari gabungan kata Meta (berbalik,berlawanan) dan Noieo (menggunakan kata nous yang artinya kegiatan berpikir). Jadi arti kata ini adalah berpikir secara berbeda atau kembali (merasa menyesal) dan berubah pikiran.
Kegiatan berpikir itu dimulai dengan
– Observasi atau mengamati
– Menganalisis atau memikirkan
– Menyimpulkan
– Memutuskan
Untuk kegiatan berpikir itu harus diberi masukan berupa memori yang terdiri dari memori sementara, memori tetap dan memori bawah sadar. Dari hasil masukan itu, maka akan menghasilkan tindakan dan kontrol emosi.
Emosi sangat mempengaruhi cara berpikir seseorang dan dapat membuat orang dapat bertindak tanpa berpikir terlebih dahulu. Emosi diterima dari panca indera kita. Dan indera ini juga memberi masukan kepada memori kita. Hati nurani memberi masukan kepada cara berpikir kita, sehingga kita harus memiliki hati nurani yang murni. Namun ingat bahwa hati nurani dapat tercemar dan rusak karena dosa.
Namun lebih dari semua itu, kita harus menempatkan kehendak Allah diatas segalanya. Kehendak Allah dapat kita ketahui lewat kebenaran firman Tuhan dan saat kita mendengar firman Tuhan, seharusnya firman itu masuk kedalam memori tetap kita dan tersimpan menjadi rhema. Dengan demikian, otak kita akan dipenuhi dengan kebenaran firman Tuhan, sehingga kita akan berpikir dengan baik. Namun sayangnya tindakan dan cara berpikir kita bukan dipengaruhi oleh firman Tuhan, namun dipengaruhi oleh keinginan daging kita.
Bagaimanakah cara berpikir orang yang diluar Allah? Efesus 4:17-19
1. Pikiran yang sia-sia
2. Pengertiannya yang gelap, jauh dari hidup persekutuan dengan Allah, karena kebodohan dan karena kedegilan hati mereka.
3. Perasaan telah tumpul, sehingga mereka menyerahkan diri kepada hawa nafsu dan mengerjakan dengan serakah segala macam kecemaran.
Kedewasaan yang komplit dan lengkap adalah saat terjadinya keseimbangan cara berpikir dengan mempertimbangkan semua input dan didominasi oleh kehendak Allah untuk menghasilkan tindakan yang benar dimana:
– Hubungan dengan Allah diperbaiki (Efesus 2:13)
– Hati nurani dimurnikan (1 Petrus 3:2)
– Menjauhi keinginan daging (1 Petrus 2:11)
– Penguasaan diri (Efesus2:26, 1 Petrus 4:7)
Tuhan ingin agar kita memiliki cara berpikir yang dewasa bukan cara berpikir kanak-kanak seperti yang tertulis dalam 1 Korintus 14:20 “Saudara-saudara, janganlah sama seperti anak-anak dalam pemikiranmu. Jadilah anak-anak dalam kejahatan, tetapi orang dewasa dalam pemikiranmu!”
Cara berpikir kita akan mempengaruhi dengan apa yang akan kita hadapi dan akan kita lakukan. Oleh karena itu pikiran kita harus diisi dengan firman Tuhan sehingga kita dapat berpikir dan bertindak yang benar sesuai dengan kebenaran firman Tuhan.
Amin.
Oleh Pdt Ir. Lui Sirapanji MA

Leave a Reply