[Khotbah] The Traveling Of The Ark (4), Minggu 16 September 2018
THE TRAVELLING OF THE ARK (4)
(Keluaran 25:10)
“Haruslah mereka membuat tabut dari kayu penaga, dua setengah hasta panjangnya, satu setengah hasta lebarnya dan satu setengah hasta tingginya”
Tuhan menyuruh Musa untuk membuat Tabut Perjanjian yang merupakan lambang kehadiran Tuhan ditengah umatNya.
Adapun bahan-bahan yang dipakai untuk membuat Tabut Perjanjian itu adalah kayu Akasia yang dilapisi dengan emas murni. Panjangnya 110 cm, lebarnya 66 cm dan tingginya 66 cm. Tabut Perjanjian itu berisi buli-buli emas berisi Manna, tongkat Harun yang berbunga dan berbuah badam, serta dua loh batu perintah Allah.
Pada saat Nebukadnezar raja Babel menghancurkan Bait Allah, maka Tabut Perjanjian itu tidak diketahui keberadaannya dan tidak lagi disebutkan keberadaannya sampai pada Perjanjian Baru.
Walaupun Tabut Perjanjian merupakan lambang kehadiran Allah ditengah umatNya, namun saat bangsa Israel berdosa dan memberontak kepada Tuhan, maka Tuhan mengijinkan Tabut Perjanjian itu dipindahkan ketempat lain.
Dalam I Sam 5:1-5 dikisahkan tentang perjalanan Tabut Perjanjian dinegeri orang Filistin. Pada saat itu orang Israel kalah perang sehingga Tabut Perjanjian dirampas oleh orang Filistin dan membawanya ke Asdod.
Dari Asdod, mereka menaikkan Tabut Allah itu ke atas kereta yang ditarik oleh lembu, dan lembu itu pergi menuju ke Bet Semes.
Perenungannya adalah:
– Kuasa Tuhan bisa dimana saja, walaupun saat itu Tabut Allah ada didaerah orang Filistin tapi Tuhan tetap berkuasa.
– Jangan main-main kepada Tuhan, seperti yang terjadi pada orang Filistin yang membawa Tabut Allah itu masuk ke kuil Dagon.
– Ilah dunia tidak dapat melawan Tuhan.
Dari Asdod, maka Tabut Allah dibawa mengikuti jalan ke Bet-Semes, dari Bet Semes Tabut Allah itu dibawa ke Kiryat Yearim dirumah Abinadab.
Alasan mengapa mereka mau membawa Tabut itu ke Kiryat Yearim karena letaknya diatas bukit yang artinya bahwa mereka memberikan suatu penghormatan kepada Tuhan.
Selama 20 tahun Tabut Allah itu ada di rumah Abinadab, namun tidak terjadi mujisat, kesembuhan, berkat dll bagi mereka. Bahkan seluruh Israel saat itu berkeluh kesah pada Tuhan, karena hidup mereka sangat menderita walaupun Tuhan hadir disana (I Sam 7:1-2)
Betapa menyedihkannya jika orang kristen mengalami penderitaan terus menerus, kesakitan tanpa henti, pergumulan hidup, pertengkaran, perselisihan, kegagalan, kesalahan, air mata, dukacita dll.
Oleh karena itu jika hari ini keadaan kita baik, maka mengucap syukurlah kepada Tuhan.
Kemudian setelah 20 tahun, Tabut itu mau dipindahkan dari rumah Abinadab. Saat itu mereka menaikkan Tabut itu ke dalam kereta yang baru dari rumah Abinadab, sedang Uza dan Ahyo mengantarkan kereta itu. Tapi saat mereka sampai ke tempat pengirikan Kidon, maka Uza mengulurkan tangannya memegang tabut itu, karena lembu-lembu itu tergelincir, Maka bangkitlah murka TUHAN terhadap Uza, lalu Ia membunuh dia oleh karena Uza telah mengulurkan tangannya kepada tabut itu; ia mati di sana di hadapan Allah (1 Taw 13:9)
Mengapa Uza memegang tabut itu?
- Dia tidak tahu firman
Uza tidak tahu akan firman Tuhan bahwa Tabut itu harus dipikul oleh imam Lewi dari bani Kehat, dan Tabut itu tidak boleh diangkut dengan kereta lembu. (Bil 4:15) “Setelah Harun dan anak-anaknya selesai menudungi barang-barang kudus dan segala perkakas tempat kudus, pada waktu perkemahan akan berangkat, barulah orang Kehat boleh masuk ke dalam untuk mengangkat barang-barang itu; tetapi janganlah mereka kena kepada barang-barang kudus itu, nanti mereka mati. Jadi itulah barang-barang di Kemah Pertemuan yang harus diangkat bani Kehat dan mereka tidak boleh menyentuh barang-barang kudus itu.
Pelajarannya:
– Usia kekristenan bukan jaminan mengetahui firman Tuhan
– Tidak tahu firman pasti gagal melakukannya
– Gagal melakukan firman akan mendatangkan celaka (Ibr 5:12)
- Dia tidak takut akan Tuhan
Mungkin karena Uza tiap hari melihat Tabut itu dirumahnya, sehingga rasa “sakral” akan Tuhan dan penghormatan akan Tuhan telah lenyap.
Melihat Tabut merupakan rutinitas bagi Uza. Rutinitas bisa menimbulkan rasa bosan, tanpa rasa hormat, tanpa rasa kagum dll.
Tuhan ingin agar kita memiliki roh yang takut akan Tuhan.
Apakah arti takut akan Tuhan?
– tidak berani melanggar
– langsung merasa bersalah jika melakukan suatu dosa
– jika bersalah maka langsung bertobat
Janji Tuhan kepada orang yang takut akan Tuhan yaitu:
– lanjut umur (Ul 6:2)
– baik keadaannya/prosperity (Ul 6:24)
– mendapat ketentraman (Ams 14:26)
Jadi takut akan Tuhan harus kita lakukan dan menjadi warisan bagi anak cucu kita (Maz 103:17) “Tetapi kasih setia TUHAN dari selama-lamanya sampai selama-lamanya atas orang-orang yang takut akan Dia, dan keadilan-Nya bagi anak cucu”
– bagi suami yang takut akan Tuhan akan diberkati (Maz 128:4) “Sesungguhnya demikianlah akan diberkati orang laki-laki yang takut akan TUHAN”
– bagi isteri yang takut akan Tuhan akan dipuji-puji (Ams 31:30) “Kemolekan adalah bohong dan kecantikan adalah sia-sia, tetapi isteri yang takut akan TUHAN dipuji-puji”
– bagi anak-anak yang takut akan Tuhan akan mendapat pengetahuan (Ams 1:7) “Takut akan TUHAN adalah permulaan pengetahuan, tetapi orang bodoh menghina hikmat dan didikan”
Sebagai orang percaya, marilah kita menjadi orang-orang yang menghormati kehadiran Tuhan dan takut akan Tuhan…..amin.
Oleh Pdt Honny Supit Sirapanji M.Th
