[Khotbah] STUPID DISCIPLES (1) , Minggu 17 Juni 2018

STUPID  DISCIPLES (1)

 (Lukas 24:25)

“Lalu Ia berkata kepada mereka: “Hai kamu orang bodoh, betapa lambannya hatimu, sehingga kamu tidak percaya segala sesuatu, yang telah dikatakan para nabi!”

 

Ada dua orang murid-murid Yesus pergi ke sebuah kampung yang bernama Emaus, yang terletak kira-kira tujuh mil jauhnya dari Yerusalem dan sementara berbicang-bincang, datanglah Yesus dan berbicara dengan mereka. Tetapi ada sesuatu yang menghalangi mata mereka, sehingga mereka tidak dapat mengenal Yesus.

Hal ini membuat Yesus menegur mereka sebagai orang bodoh dan lamban.

Mengapa mereka menjadi bodoh dan lamban? Disebabkan karena mereka terlalu lama dalam tekanan dari orang Romawi, yaitu pada tahun 63 SM seorang jenderal Romawi bernama Pompey datang dan menjajah Israel, kemudian Jenderal Titus pada tahun 70 Masehi yang akhirnya menghancur

kan  dan membakar Bait Allah. Hal ini yang memunculkan karakter yang tidak baik seperti:

  1.         Segan bertanya

Mereka takut bertanya pada Tuhan Yesus padahal mereka tidak mengerti tentang perkataan Yesus yang mengatakan bahwa Anak Manusia akan diserahkan, dibunuh dan akan bangkit pada hari yang ketiga (Mark 9:32) “Mereka tidak mengerti perkataan itu, namun segan menanyakannya kepada-Nya”

Ini adalah indikasi dari orang bodoh yaitu:

– Tidak tahu tapi segan bertanya

– Senang tinggal dalam kebodohan

– Tidak melakukan firman Tuhan

Murid-murid ini adalah orang yang telah dimuridkan dan menerima pengajaran dari Tuhan Yesus, namun kerohanian mereka dicela oleh Tuhan Yesus, padahal faktanya adalah orang lain menjadi takjub kepada pengajaran Yesus selama Yesus mengajar mereka. Mereka sebenarnya membutuhkan firman Tuhan untuk bekal hidup. Waktu belajar mereka sangat singkat yaitu hanya 3,5 tahun dan sebenarnya harus dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk belajar banyak dari Tuhan Yesus dan firmanNya. Sebagai orang percaya,kita harus belajar banyak tentang firman Tuhan sebab firman Tuhan memiliki otoritas.

(Yer 23:2)9 “Bukankah firman-Ku seperti api, demikianlah firman TUHAN dan seperti palu yang menghancurkan bukit batu?”

(Ibr 4:12) “Sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua manapun; ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita.”

(Kis 6:10) “tetapi mereka tidak sanggup melawan hikmatnya dan Roh yang mendorong dia berbicara.

(II Tim 3:16) “Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran”

Kejarlah, belajarlah, pahamilah dan lakukanlah firman Tuhan.

  1.         Memakai pikiran manusia

Mat 16:23 “Maka Yesus berpaling dan berkata kepada Petrus: “Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia.”

Petrus kelihatannya sangat rohani, karena dia berpikir bahwa Allah akan meluputkan Yesus sehingga Dia tidak akan mati disalibkan. Sebenarnya Petrus memakai pikiran manusia bukan pikiran Allah.

Pikiran manusia hanyalah sebatas kepada hal duniawi dan kedagingan (Fil 3:19b) dimana pikiran mereka hanya semata-mata tertuju kepada perkara duniawi.

Seperti yang terjadi pada orang Israel saat berada dipadang gurun, Allah menyertai mereka dengan tiang awan dan tiang api (Kel 14:19), mereka melihat Manna setiap hari (Bil 11:9). Namun semua itu dianggap hal yang biasa saja oleh orang Israel, padahal tiang awan, tiang api dan Manna merupakan mujisat Tuhan, bukti pemeliharaan dan kasih setia Tuhan kepada mereka.

Jangan anggap biasa semua yang Tuhan berikan pada kita, karena itu semua adalah karena anugerahNya, mujisatNya.

Apakah yang dihasilkan oleh pikiran manusia?

-Ketakutan seperti yang dialami oleh Israel saat didepannya ada laut Teberau dan dibelakang mereka ada Firaun dan tentaranya yang mengejar.

– Putus asa seperti Elia yang diancam mau dibunuh oleh Izebel.

– Kebimbangan seperti Petrus saat dia sedang berjalan diatas air.

– Ketidak percayaan seperti Sara yang tertawa akan janji Tuhan tentang keturunan.

Sebagai orang percaya, marilah kita memikirkan perkara-perkara  diatas dan bukan perkara dibumi (Kol 3:2)…..amin.

 

Oleh Pdt Honny Supit Sirapanji M.Th