[Khotbah] Elijah Undercover, Minggu 25 November 2018

ELIJAH UNDERCOVER

I Raja-raja 17:1-16

“Lalu berkatalah Elia, orang Tisbe, dari Tisbe-Gilead, kepada Ahab: “Demi Tuhan yang hidup, Allah Israel, yang kulayani, sesungguhnya tidak akan ada embun atau hujan pada tahun-tahun ini, kecuali kalau kukatakan.”

 

Ada beberapa pelajaran yang kita dapatkan dari kisah ini yaitu:

– ayat 1 “lalu berkatalah Elia”

Pada saat itu Elia menyampaikan firman Tuhan sesuai dengan dorongan Roh Tuhan, dan perkataan Elia orang benar itu adalah perkataan yang penuh dengan kuasa Allah. Jika kita adalah orang benar, maka saat kita mengucapkan sesuatu, maka perkataan kita adalah sebuah perkataan yang berkuasa.

Jadi berhati-hatilah untuk mengucapkan suatu perkataan, agar dapat menjadi berkat bagi orang lain.

– ayat 2 “Kemudian datanglah firman TUHAN kepadanya”

Tuhan berbicara kepada hambaNya agar hambaNya menyampaikan firmanNya/perintahNya.

Seperti yang terjadi pada Musa dimana Tuhan berbicara dengan berhadapan muka, dengan terus terang, dan bukan dengan teka-teki (Bil 12:7). Juga kepada Daud yang mana Tuhan berbicara dengan perantaraan Daud,dan firman Tuhan ada dilidahnya (II Sam 23:2)

– ayat 3 “pergilah, berjalanlah dan bersembunyilah di tepi sungai Kerit”

Elia disuruh Tuhan untuk pergi dan bersembunyi ditepi sungai Kerit. Hal ini memperlihatkan bahwa:

-Tangan Tuhan sanggup menolong Elia dimanapun dan kapanpun.

-Berkat Elia itu bersifat personal (pribadi) tidak diketahui oleh orang lain.

-Apa yang dimiliki Elia, tidak dimiliki oleh seluruh kerajaan.

Kita memiliki sesuatu yang dunia tidak punyai, oleh karena itu jangan minder dan malu akan hal itu.

– ayat 4 “Engkau dapat minum dari sungai itu, dan burung-burung gagak telah Kuperintahkan untuk memberi makan engkau di sana.”

-Tuhan memakai burung Gagak untuk memneri makan Elia. Demikian juga Tuhan bisa memakai semua sarana untuk melepaskan berkat bagi kita.

-Nikmatilah berkat Tuhan itu dengan ucapan syukur.

– ayat 5 “Lalu ia pergi dan ia melakukan seperti firman TUHAN; ia pergi dan diam di tepi sungai Kerit di sebelah timur sungai Yordan”

Sepertinya tindakan Elia sudah benar karena dia taat kepada perintah Tuhan, akan tetapi kemudian sungai kerit menjadi kering….mengapa sungai Kerit itu bisa menjadi kering?

-Sikap hati. Kata “diamlah” dalam bhs Inggris Dwelt, Settle artinya menetap. Hal inilah yang membuat  berkat itu dihentikan oleh Tuhan karena tiba-tiba Elia berada di zona nyaman, Elia tidak berbuat apa-apa dan dia merasa semuanya terjamin.

Saat kita berada di zona nyaman, maka hal itu akan mematikan kehidupan kerohanian kita.

– ayat 6 “Pada waktu pagi dan petang burung-burung gagak membawa roti dan daging kepadanya, dan ia minum dari sungai itu”

-Elia mengandalkan burung Gagak dan air sungai kerit (II Kor 4:7)

-Tugas Elia masih banyak, sebab Elia yang telah menyampaikan teguran bagi orang Israel, jadi dia juga lah yang harus menyampaikan berita pemulihan pada mereka.

– ayat 9 “Bersiaplah, pergi ke Sarfat yang termasuk wilayah Sidon, dan diamlah di sana. Ketahuilah, Aku telah memerintahkan seorang janda untuk memberi engkau makan.

Elia menerima jaminan pemeliharaan dari Tuhan. Anak-anak kerajaanlah yang harus menikmati berkat Tuhan, tapi jika anak-anak kerajaan itu tidak bertanggung jawab, maka orang lain yang akan menerima berkat Tuhan itu.

– ayat 10 “Setelah ia sampai ke pintu gerbang kota itu, tampaklah di sana seorang janda sedang mengumpulkan kayu api. Ia berseru kepada perempuan itu, katanya: “Cobalah ambil bagiku sedikit air dalam kendi, supaya aku minum.”

Ketika Elia tiba, janda itu ada di pintu gerbang. Apakah ini suatu kebetulan?

Tidak ada sesuatu pun yang kebetulan dalam Tuhan karena Tuhan sudah merencanakan segala sesuatu (Roma 8:28). Kemudian Elia meminta kepada janda yang miskin itu. Mengapa Elia tidak malu meminta? Karena Tuhan telah memberi tahu bahwa janda itu lah yang akan memelihara hidupnya. Oleh karena itu baik sekali jika kita meminta sesuatu sesuai dengan tuntunan Tuhan.

– ayat 12 “Perempuan itu menjawab: “Demi TUHAN, Allahmu, yang hidup, sesungguhnya tidak ada roti padaku sedikitpun, kecuali segenggam tepung dalam tempayan dan sedikit minyak dalam buli-buli. Dan sekarang aku sedang mengumpulkan dua tiga potong kayu api, kemudian aku mau pulang dan mengolahnya bagiku dan bagi anakku, dan setelah kami memakannya, maka kami akan mati.”

Saat Elia meminta air dan roti kepada janda Sarfat itu, maka jawaban janda itu tidak sesuai dengan harapan Elia. Apakah Elia kecewa? Tidak, sebab Elia yakin dan percaya bahwa Tuhan tidak pernah salah berfirman.

– ayat 13 “Tetapi Elia berkata kepadanya: “Janganlah takut, pulanglah, buatlah seperti yang kaukatakan, tetapi buatlah lebih dahulu bagiku sepotong roti bundar kecil dari padanya, dan bawalah kepadaku, kemudian barulah kaubuat bagimu dan bagi anakmu”

Elia memberi arahan kepada janda itu agar taat saja kepada firman Tuhan, karena pasti Tuhan akan menyatakan kuasaNya, pemeliharaanNya.

– ayat 14 “Sebab beginilah firman TUHAN, Allah Israel: Tepung dalam tempayan itu tidak akan habis dan minyak dalam buli-buli itupun tidak akan berkurang sampai pada waktu TUHAN memberi hujan ke atas muka bumi.”

Elia bernubuat tentang apa yang akan terjadi pada janda itu. Ini adalah janji Tuhan pada kita bahwa Dia akan memelihara hidup kita.

– ayat 15 “Lalu pergilah perempuan itu dan berbuat seperti yang dikatakan Elia; maka perempuan itu dan dia serta anak perempuan itu mendapat makan beberapa waktu lamanya.

Ketaatan janda ini mendatangkan mujisat yang tidak lazim.

– ayat 16 “Tepung dalam tempayan itu tidak habis dan minyak dalam buli-buli itu tidak berkurang seperti firman TUHAN yang diucapkan-Nya dengan perantaraan Elia.

Perkataan Elia terbukti, sehingga hal ini membuktikan bahwa:

– Dirinya adalah hamba Tuhan.

– Tuhan yang dia layani adalah benar-benar hidup (ayat 24)…..Amin.

 

Oleh Pdt Honny Supit Sirapanji M.Th