[Khotbah] Abraham the Great Father, 04 November 2019
ABRAHAM THE GREAT FATHER
Nama Abram dalam bahasa Inggris adalah “High Father” artinya bapa yang mulia yang memiliki banyak harta kekayaan. Namun setelah Allah memanggil Abram keluar dari sanak saudara dan dari Ur Kasdim, maka Allah mengganti namanya menjadi Abraham, dalam bahasa Inggris “Father of Multitude” artinya bapa bagi banyak orang (bangsa-bangsa). Hal ini terbukti karena saat ini keturunan Abraham sangat banyak dan tidak terhitung jumlahnya, termasuk kita semua orang percaya yang adalah keturunan Abraham secara rohani.
Dalam Kejadian 22:1 dikatakan firman Tuhan bahwa Allah mencoba Abraham “Setelah semuanya itu Allah mencoba Abraham . Ia berfirman kepadanya: “Abraham,” lalu sahutnya: “Ya, Tuhan. Firman-Nya: “Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi, yakni Ishak, pergilah ke tanah Moria dan persembahkanlah dia di sana sebagai korban bakaran”. Kata “mencoba” dalam bahasa Ibrani “Naw-saw” artinya menguji seperti logam yang diuji kadarnya.Saat itu Abraham mendapatkan ujian dari Tuhan berupa ujian tentang ketaatan. Dalam kehidupan orang percaya, ujian Tuhan dapat juga berupa ujian tentang kemurnian hati (Maz 17:3) “Bila Engkau menguji hatiku, memeriksanya pada waktu malam, dan menyelidiki aku, maka Engkau tidak akan menemui sesuatu kejahatan” Hal ini seperti yang dialami oleh Daud yang berkata “Ujilah aku, ya TUHAN, dan cobalah aku; selidikilah batinku dan hatiku” Ujian Tuhan lainnya bagi kita adalah ujian tentang kepemilikan. Suatu saat ada seorang pemimpin yang kaya datang pada Tuhan Yesus, dan Tuhan Yesus berkata bahwa jika dia mau menerima kehidupan kekal, maka “juallah segala yang kau miliki dan bagi-bagikanlah kepada orang miskin” (Lukas 18:18) Maka dia akan menerima upah disorga dan menjadi murid Tuhan, namun sayangnya dia gagal. Namun berbeda dengan yang dialami Zakheus yang rela melepaskan harta miliknya tanpa disuruh oleh Tuhan Yesus.
Mengapa ujian ketaatan yang dialami oleh Abraham sangat berat baginya?
1. Ishak adalah pemberian Tuhan Saat firman Tuhan itu datang pada Abraham untuk mengorbankan Ishak, maka pemahamannya tentang Tuhan teraduk-aduk. Abraham mulai mempertanyakan, mengapa Tuhan yang telah memberikan Ishak baginya, kini mau mengambil kembali apa yang Dia beri? Bukankah Tuhan sendiri yang berjanji bahwa “Aku akan memberkatinya, dan dari padanya juga Aku akan memberikan kepadamu seorang anak laki-laki, bahkan Aku akan memberkatinya, sehingga ia menjadi ibu bangsa-bangsa; raja-raja bangsa-bangsa akan lahir dari padanya” (Kejadian 17:16)
Ada beberapa pelajaran dari kisah ini yaitu:
A. Seringkali kita meragukan Tuhan dalam ketaatan dan dalam berkorban. Iblis mengambil sesuatu dari kita untuk membuat miskin dan membinasakan (Yoh 10:10a).
Hal ini terjadi pada Saul yang telah diangkat jadi raja Israel, namun iblis telah menipunya sehingga dia melanggar perintah dan tidak taat kepada firman Tuhan yang disampaikan oleh nabi Samuel. Akibatnya adalah dia ditolak jadi raja, bahkan dia mati binasa.
Demikian juga dengan Yudas yang mencuri uang kas yang dipegangnya, serta mengkhianati dan menjual Tuhan Yesus dengan 30 keping perak. Akhir hidupnya, dia mati dengan sangat tragis.
Ingatlah bahwa jika Tuhan meminta sesuatu dalam hidup kita, maka Dia berjanji akan melipat gandakannya, sebab setiap hal yang kita lakukan pasti memperoleh balasan Tuhan. (Matius 10:42) “Dan barangsiapa memberi air sejuk secangkir sajapun kepada salah seorang yang kecil ini, karena ia murid-Ku, Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ia tidak akan kehilangan upahnya” (Amsal 19:17) “Siapa menaruh belas kasihan kepada orang yang lemah, memiutangi TUHAN”
B. Pemahamannya tentang Tuhan (Theologia) teraduk-aduk dan menjadi kacau.
Seringkali pemahaman kita akan Tuhan dan firmanNya tergoncang misalnya
tentang baptisan selam, pengangkatan, keselamatan, perpuluhan, tata
ibadah, bahasa Roh, pentakosta ke 3 dll.
Ujian ketaatan Abraham melebihi cintanya kepada Sara isterinya, sehingga Sara tinggal dan menetap di Hebron (Kej 23:1-3) sedangkan Abraham menetap di Bersyeba (Kej 22:19) yang berjarak kira-kira 56 kilo meter.
2. Ishak adalah anak tunggal
Tuhan menguji Abraham untuk melepaskan anak yang dia kasihi, mengapa? Karena Dia adalah Allah yang cemburuan (Kel 20:5) Dia mau agar kita mengasihi Dia lebih dari segalanya. (Matius 10:37) “barangsiapa mengasihi bapa, ibunya, anaknya laki-laki, perempuan, tidak layak bagi-Ku” (Lukas 14:26) “bahkan nyawanya sendiri, tidak layak” Seperti yang terjadi pada Musa yang rela meninggalkan keluarganya untuk pelayanan (Kel 14:18) namun akhirnya dia bisa berkumpul kembali dengan keluarganya (Kel 18:1-4) bahkan dia rela kehilangan keselamatan demi bangsa Israel (Kel 32:32).
Bagaimana dengan kehidupan kita? Apa atau siapa yang paling kita kasihi? Keluarga, harta, kedudukan, pekerjaan, hobby, waktu, tenaga, kehormatan dll? Ada cara yang efektif agar kita dapat melepaskan apa yang kita kasihi yaitu: lupakan nilainya, lupakan kegunaannya, lupakan kenikmatannya, lupakan kesusahan untuk mendapatkannya, percaya bahwa Tuhan pasti akan
menggantikannya, dan ada upah bagi tindakan ketaatan.
3. Butuh pergumulan panjang untuk mendapatkan Ishak Abraham dan Sara membutuhkan waktu selama 25 tahun untuk menerima janji Tuhan yaitu Ishak. Pada saaat Abraham berumur 75 tahun dia menerima janji Tuhan bahwa Tuhan akan memberkati dan memberikan keturunan baginya (Kej 12:4). Janji Tuhan itu digenapi setelah Abraham berumur 100 tahun (Kej 21:5). Ada kalanya Tuhan meminta apa yang diperoleh dengan susah payah, pergumulan yang panjang, proses waktu dll. Namun itulah ujian ketaatan yang Tuhan mau agar kita dapat lulus dan berhasil untuk taat seperti Abraham. Akhirnya janji Tuhan bagi Abraham digenapi dalam hidupnya yaitu menjadi bapa bagi bangsa-bangsa….amin.
Oleh Pdt. Honny Supit Sirapanji M.Th
