[COOL] Menyenangkan Hati Tuhan, Rabu 31 Oktober 2018

SENANGKANLAH TUHAN

Ref: Mazmur 116:12 <1>

PENDAHULUAN

Jika kita pernah ditolong oleh seseorang di mana kita dalam kondisi yang memang sedang butuh pertolongan, pastilah pertolongan tersebut sangat berarti dan membuat kita tidak bisa melupakannya bukan?! Bahkan timbul keinginan dari hati kita untuk bisa membalas kebaikan orang tersebut kelak nanti. Itu artinya kita tahu makna membalas budi. Nah bagaimana dengan hubungan kita selama ini dengan Tuhan? Bukankah Tuhan sudah tak terhitung banyaknya menolong kita selama menjalani kehidupan ini? Bukankah kasihNya begitu besar dan begitu melimpah atas kita? Dan bahkan kita tidak pernah bisa membalas kasihNya yang begitu hebat atas kita?! Walaupun demikian, setidaknya ada hal yang bisa kita perbuat demi menyenangkan Sang Penyelamat, Sang Penolong Sejati kita.

URAIAN

Akuilah kebaikan Tuhan dan senangkanlah Dia dengan hal-hal berikut ini:

  1. Bersyukurlah Senantiasa (1Ptr.2:9-10) <2>.
  • Bahwa kita sudah diangkat jadi keluarga Allah.
  • Bahwa kita sudah ditebus dari kegelapan maut kepada terang hidup.
  • Bahwa kita sudah dikasihani Tuhan dan diangkat jadi anak-anakNya.
  1. Milikilah Hobi Baru (Kol.3:1-2, Mat.6:33) <3>.
  • Hobi memikirkan hal-hal rohani.
  • Hobi mengutamakan hal surgawi daripada hal duniawi.
  1. Libatkanlah Diri Dalam Pekerjaan Kerajaan Allah (1Kor.15:58, Kol.3:23) <4>.
  • Terlibat dalam pelayanan di Cool dan di gereja.
  • Karena dilakukan untuk Kerajaan Allah (bukan untuk manusia), maka melakukannya dengan semangat ilahi / sepenuh hati, bukan karena formalitas.

SHARING

Umum: “Berdasarkan uraian di atas, ceritakan / diskusikan salah satu atau seluruh hal tersebut berdasarkan pengalaman hidup saudara.”

Khusus: “Sikap menyenangkan Tuhan, akan nampak dari sikap keseharian kita. Bukan sekedar dari pernyataan bahwa kita adalah orang Kristen. Apakah itu sudah saudara tunjukkan? Dengan cara bagaimanakah?”

PENUTUP

Hal-hal tersebut adalah gaya hidup anak-anak Tuhan. Gaya hidup orang-orang yang matanya tertuju pada kekekalan. Sebuah gaya hidup yang mentaati Firman Tuhan dan menjalani kehidupan yang tidak lagi “semau gue” (Yoh.14:15, 1Ptr.1:14).